Bersyukur - Bahagia Tak Menunggu Punya
Kebanyakan kita bersyukur setelah menggapai apa yang jadi cita-cita. Lulus sekolah, langsung syukuran. Lulus kuliah, lagi-lagi syukuran. Diterima kerja di perushaan gede, semangat ngajak dan traktir teman ke restoran mahal. Sukses menikahi gadis berparas cantik, pujaan hati, bergegas undang tetangga syukuran. Punya anak yang lucu-lucu, syukuran. Punya rumah pribadi, mobil pribadi, baru syukuran. Harusnya kita bersyukur tanpa menunggu punya. Bersyukurlah tanpa menanti kapan dan mendapat apa?
Saya teringat dengan sebuah kisah seorang remaja yang mengutarakan perasaaan bahagianya pada pamannya sesudah menyaksikan sekilas mobil keren melintas di depannya. Dia sangat terpesona menyaksikan mobil tersebut dan dia merasa itu sebuah anugerah karena Allah telah izinkan menyaksikan mobil mewah tersebut."Paman, alhamdulillah,"ungkap dia ke pamannya dengan polos."Saya sangat senang dan bersyukur bisa melihat mobil yang mewah seperti itu."
"Duh, betapa sederhananya cara kau peroleh bahagia. Cukup dengan melihat mobil yang lewat saja kau sudah bahagia. Bayangkan, kalau bahagiamu menanti punya mobil seperti yang baru saja kau lihat, betapa sengsaranya dirimu,"respon pamannya. Obrolan singkat di atas memancing inspirasi, syukur tak menanti kita memiliki sesuatu. Allah telah izinkan menikati karunia hidu saja harusnya bersyukur.
Kunci pembuka bahagia adalah syukur. Di sana kau bisa menemukan himpunan kebaikan, kemanfaatan dan kebermaknaan. Ada sosok yang tidak lahir dari kalangan kaya raya, tapi rasa syukurnya terus mengaliri bibir dan menggenangi hatinya. Dia seperti mengarungi kehidupan yang sangat indah. Allah anugerahi sudut pandang yang bikin dia selalu bersyukur, sehingga setiap saat dia selalu punya alasan untuk bisa bersyukur pada Allah Swtt
Dahulu ada orang kaya yang setiap malam tak bisa tidur. Dia seperti dihantui oleh ketakukan yang sangat besar. Bahkan, dia memilih hotel yang mahal agar bisa tidur, tapi tak kunjung bisa tidur juga. Dia baru bisa tidur kalau sudah mengonsumsi obat tidur. Bahkan tidurnya pun tidak tenang, karena ketakutan itu terbawa hingga ke alam bawah sadar. Hadir sebagai mimpi dalam tidurnya. Mengalami kenyataan seperti itu, dia berinisiatif mengunjungi seorang kiai, ingin mengabarkan keluhan yang dia rasakan.
Setelah di diagnosis melalui obrolan santai, sang kiai mendapati orang itu telah memproduksi banyak musuh. Musuh itu dia bawa terus dalam pikiran dan dimasukkan ke hati. Untuk itu, sang kiai bilang,"Maafkanlah siapa saja yang bersaah kepadamu. Maafkan semuanya. Tanpa kecuali."
Nasihat itu rupanya di dengar oleh kaya raya itu. Dia maafkan semuanya, dia hilangkan kesan-kesan kotor orang lain yang menempel di hatinya. Dia kuras segala citra negatif orang lain yang memenuhi hatinya. Perlahan-lahan belenggu itu lepas dan hilang. Dia mendapati hatinya terasa ringan, jernih dan tenang
Bersyukurlah akan setiap anugerah yang Allah karuniakan kepadamu. Allah telah memberimu tangan yang dengannya akau bisa bekerja menghasilkan karya. Allah menghadiahimu lisan, dengannya kasu bisa bisa berbicara dan mengutarakan pendapat, pikiran dan perasaaanmu. Allah telah memasangimu telinga yang dengannya kau bisa mendengarkan lagu-lagu yang indah memukau jiwa. Kau telah diberi perangkat untuk merasakan segala nikmat yang Allah sediakan.
Andaikan tak ada yang bisa kau syukuri maka kau masih punya alasan untuk bersyukur, Allah masih memberimu hidup. Bukankah hidup pangkal dari semua nikmat di dunia?
0 comments:
Post a Comment