1 February 2022

Riya atau Syiar

 

Dikala maksiat marajela. Meramaikan dataran realitas sekaligus dunia hiper-realitas. Menggebrak dunia nyata sekaligus dunia virtual. Di sanalah, orang sholeh harus bergerak menampakkan dan mensyiarkan kebaikan. 


Jangan sampai keburukan tampak dan merajelala di mana-mana, sementara kebaikan disembunyikan oleh pelakunya. Karena kalau ditampakkan takut teracuni oleh riya. 


Bukankah riya jadi penghalang diterimanya amal kebaikan? 


Amal yang ditampakkan tidak berarti disusupi riya. Jika kita pengin mengajak orang lain ke medan kebaikan harus memberi contoh pada sesama. Tanpa hadirnya contoh, bagaimana mungkin orang memiliki model untuk diikuti. 


Karena itu, yang kita awasi bukan dimensi luaran. Melainkan dimensi batin sebagai energi penggerak setiap amal kebaikan. 


Bayangkan, jika kebaikan hanya dilakukan di tempat tersembunyi, hanya sebagian orang saja yang mengetahui. Atau mungkin tak satu orang pun yang mengetahui, sehingga tidak memberi dampak perubahan bagi orang lain.  


Orang yang benar-benar ikhlas tidak diperbudak keramaian atau kesepian. 


Ada orang atau tidak ada orang tetap saja bergerak, memberi manfaat.  


Fudhail bin Iyad menegaskan, “Meninggalkan amal karena manusia adalah riya, dan beramal karena manusia adalah syirik, dan ikhlas adalah Allah menyelamatkan engkau dari keduanya.”


Akan tetapi, ketika kebaikan ditampakkan—tentu saja disertai ketulusan dan rasa syukur—insya Allah kebaikan akan mudah menjalar, menular, dan menyebar pada orang lain. Di zaman sekarang ini, sudah semakin banyak orang berbicara, sehingga lupa memberikan contoh. Padahal perbuatan lebih berdampak daripada sebatas kata-kata. 


Selain itu, perbuatan maksiat ditampilkan secara terang-terangan oleh pelakunya, bahkan diviralkan. Menurut ilmu psikologi, keburukan lebih mudah viral ketimbang kebaikan. Kalau keburukan terus menyebar sementara orang-orang shaleh sibuk menyendiri dan enggan menebarkan kebaikan, karena takut riya, maka kebaikan akan mengalami kelangkaan di tengah semaraknya keburukan.


Agama harus menang terhadap kemungkaran. Cahaya harus menang terhadap kegelapan. 


Karena itu, kita perlu menjadi kontributor dari setiap kebaikan. Berbagi pada sesama—tak masalah—ditampakkan selama diniati untuk menginspirasi orang lain agar ikut berbagi. 


Selain itu, tidak dimaksudkan untuk merendahkan orang miskin. Saya sendiri tidak setuju jika kita berbagi lalu dipajang bersama dengan orang miskin yang sedang disantuni. Jika demikian, ditakutkan orang yang diberi merasa direndahkan.


Kita sedang berada di medan “perang” keburukan dan kebaikan. Kita memilih mensyiarkan yang mana?


Kalau kita memang baik akan selalu terpanggil untuk menebarkan kebaikan. Mengajarkan, mendemonstrasikan, dan memberi contoh kebaikan pada sesama. Menegakkan shalat berjamaah—sangat dianjurkan—bukan sekadar untuk menegakkan kewajiban, tapi bagaimana shalat yang kita lakukan bisa ikut menebarkan dan menginspirasi kebaikan bagi sesama. Bernilai syiar. 


Ketika kita beramal karena Allah, maka tak lagi terpenjara oleh ramai atau sepi, gelap atau terang. Ramai dan sepi baginya sama saja. Karena Allah meliputi keduanya.

 

Asalkan hati kita terus dibersihkan, berikut di-setting niat bahwa amal kita persembahkan untuk Allah. 

 

Jika kita tidak mau menebarkan kebaikan ditakutkan riya’, lalu siapa yang akan berdakwah, menebarkan kebaikan. Mungkin awalnya kita tidak ikhlas, tapi pelan-pelan kita terbiasa, ikhlas pun muncul dengan sendirinya. Seperti orang mengisi kotak amal.



Pada mulanya, dia mungkin senang dilihat oleh orang lain. Akan tetapi, karena sudah terbiasa, maka meletakkan donasi di kotak amal jadi kebutuhan bagi jiwa sendiri. Tidak lagi karena ingin dipuji oleh orang lain.


Selain itu, harus diikatkan dalam kesadaran bahwa ketika kita bisa memberi, sejatinya bukan berasal dari diri sendiri. Melainkan karena belas kasih dari Allah Swt. Bukan hanya yang kita berikan pada orang lain milik Allah, bahkan diri kita adalah milik Allah. 


Karena itu, tak ada yang bisa kita klaim sebagai milik dan juga perbuatan kita.


Untuk itu, jika kemudian kita berbuat baik atau berdakwah, kita bersyukur pada Allah karena telah dijadikan kanal oleh-Nya untuk tersebarnya kebaikan. 



Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit, sed diam nonummy nibh euismod tincidunt ut laoreet dolore magna Veniam, quis nostrud exerci tation ullamcorper suscipit lobortis nisl ut aliquip ex ea commodo consequat.

0 comments:

Post a Comment

Contact Us

Phone :

+20 010 2517 8918

Address :

3rd Avenue, Upper East Side,
San Francisco

Email :

email_support@youradress.com